Rabu, 25 Maret 2015

Hadroh Babussalam Ngodo Lendo


HADROH BABUSSALAM NGODOLENDO


Jamaah sholawat hadroh Babussalam Ngodo Lendo mulai awal berdiri dari tahun 1991, mulanya jamaah ini diprakarsai oleh beberapa orang saja. Jamaah ini mulai terbentuk atas jasa seorang Habib yang dulu sering datang ke Ngodo Lendo, beliau seorang ulama' besar dan tersohor, beliau Al Habib Umar bin Ahmad Bafaqih. Beliaulah yang secara langsung mengajarkan sholawat hadroh di Ngodo Lendo. Waktu itu beliau masih muda dan seusia dengan murid-muridnya yang tak lain adalah para pelopor Jamaah Sholawat Hadroh di Ngodo Lendo. Bapak-bapak pelopor itu diantaranya Pak Asnawi yang sapai sekarang menjadi pengasuh TPA Al Azhar Ngodo Lendo, Pak Solihin, Pak Muyadi, Pak Sumad, Pak Supri, dan beberapa yang lainya. Saat itu Sholawat Hadroh belum menjamur seperti sekarang ini, dan tentunya menjadi suatu hal yang baru bagi yang mendengar dan melihatnya.

Ngodo Lendo menjadi salah satu dari yang pertama kali terbentuknya sholawat hadroh.
Sholawat Hadroh di Ngodo Lendo pun masih eksist sampai sekarang, tentunya berkat jasa-jasa para penndirinya yang selalu mengajarkan kepada generasi penerusnya hingga jamaahnya tetap awet sampai sekarang.
Hadroh Babussalam Ngodolendo Tempo Dulu



Sejarah singkat hadroh



Hadrah atau lebih populer dengan sebutan terbangan perkembangannya tak lepas darisejarah dakwah Islam. Seni ini memilikisemangat cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.Tidak ada yang tahu secara persis, kapandatangnya musik hadrah di Indomesia. Namunhadrah atau yang lebih populer dengan musikterbangan (rebana bahasa jawa) tersebut taklepas dari sejarah perkembangan dakwah Islampara Wali Songo.Dari beberapa sumber menyebutkan bahwapada setiap tahun di serambi Masjid AgungDemak, Jawa Tengah diadakan perayaan MaulidNabi yang diramaikan dengan rebana. Para Walisongo menggadopsi rebana dari Hadrolmautsebagai kebiasaan seni musik untuk dijadikanmedia berdakwah di Indonesia.Menurut keterangan ulama besar Palembang AlHabib Umar Bin Thoha Bin Shahab, adalah AlImam Ahmad Al Muhajir (kakek dari Wali Songokecuali Sunan Kalijaga), ketika hijrah ke Yaman( Hadrolmaut ) bertemu dengan salah satupengikut tariqah sufi (darwisy) yang sedangasyik memainkan hadrah (rebana) sertamengucapkan syair pujian kepada Allah danRasul-Nya. Dengan pertemuan itu merekabersahabat. Setiap Imam Muhajir mengadakanmajelis maka disertakan darwisy tersebut,hingga keturunan dari Imam Muhajir tetapmenggunakan hadrah disaat mengadakan suatumajelis.Hadrah selalu menyemarakkan acara-acaraIslam seperti peringatan Maulid Nabi, tablighakbar, perayaan tahun baru hijriyah, danperingatan hari-hari besar Islam lainnya.Sampai saat ini hadrah telah berkembang pesatdi masyarakat Indonesia sebagai musik yangmengiringi pesta pernikahan, sunatan,kelahiran bayi, acara festival seni musik Islamidan dalam kegiatan ekstrakulikuler disekolahan, pesantren, remaja masjid danmajelis taklim.Makna hadrah dari segi bahasa diambil darikalimat bahasa Arab yakni hadhoro atauyuhdhiru atau hadhron atau hadhrotan yangberarti kehadiran. Namun kebanyakan hadrahdiartikan sebagai irama yang dihasilkan olehbunyi rebana. Dari segi istilah atau definisi,hadrah menurut tasawuf adalah suatu metodeyang bermanfaat untuk membuka jalan masukke ‘hati’, karena orang yang melakukan hadrahdengan benar terangkat kesadarannya akankehadiran Allah dan Rasul-Nya.Syair-syair Islami yang dibawakan saat bermainhardah mengandung ungkapan pujian danketeladanan sifat Allah dan Rasulullah SAW yangagung. Dengan demikian akan membawadampak kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.Para sufi yang biasanya melibatkan seruan atassifat – sifat Allah yang Maha Hidup (Al-Hayyu),melakukannya sambil berdiri, berirama danmelantunkan bait-bait pujian atas baginda NabiMuhammad SAW.Kekuatan Mahabbatur RasulPujian terhadap Rasulullah baik dalam bentukprosa maupun syair, telah ada sejak zamanRasululah SAW lewat bait-bait gubahan tigapenyair terkenal yaitu Hasan ibn Tsabit,Abdullah ibn Rawahah dan Ka’ab ibn Malik. Nabijustru sangat terkesan dengan keindahan syair(qasidah) yang disampaikan oleh Ka’ab ibnZuhayr ibn Abi Salma. Karena rasa sukanya,Nabi Muhammad pernah menghadiahkanselendang (burdah) untuk Ka’ab.Sanjungan yang sering disampaikan parashahabat ini bersifat metaforik dan gayasimbolik sehingga mengilhami syair dan prosadalam kitab-kitab Malid semisal al-Barzanji, ad-Diba’i, atau qasidah al-Burdah.Adalah Imam Syarafuddin Abu AbdillahMuhammad ibn Zaid as-Shanhaji al-Bushiri(1213-1296 M/610-695 H) ahli hadis, penulis,sekaligus sastrawan kondang asal Mesir yangmenulis 162 syair burdah. Semasa hidupnya al-Bushiri pernah berguru kepada Imam as-Syadzili (pendiri Tarikat Sadziliyah) dsnpenerusnya Abdul Abbas al-Mursi.Sajak-sajak Burdah yang 162 bait itu terdiri dari10 bait tentang cinta, 16 tentang hawa nafsu, 30tentang pujian terhadap Rasulullah SAW, 19tentang kelahirannya, 10 tentang pujianterhadap al-Qur’an, 3 tentang Isra’ Mi’raj, 22tentang jihad, 14 tentang istighfar, selebihnya(38 bait) tentang tawassul dan munajad.Al-Bushairi memulai karyanya denganmembuka pertanda mabuk asmara denganbercucuran air mata dan kegalauan hati. Tetapiia mengingatkan bahwa tetesan air mata dankegalauan itu tak selamanya menandakan cinta,karena didepan telah ada hawa nafsu yang siapmembelokkan arah. “Nasfu ibarat anak kecilyang jika dibiarkan akan terus menyusu hinggamasa mudanya, tapi jika dihentikan sedikitdemi sedikit, ia akan berhenti dengansendirinya.” (Bait ke-19).Bagi al-Bushiri nafsu seolah binatang gembalayang harus terus dijaga setiap saat. Sekalipun iaterlihat tenang ketika menikmati makananrumput yang hijau, tetap jangan lengah.” (Baitke-21). Setelah menyadari bahwa nafsu selaludinahkodai setan, maka al-Bushirimemperkenalkan sosok yang seluruh tenaga,pikiran, hati dan waktunya dihabiskan untukkebenaran yaitu Nabi Muhammad SAW. Segalahinaan, permusuhan, lemparan batu dankotoran, hingga usaha pembunuhanditerimanya dengan penuh ketabahan.Al-Bushairi menyadari bahwa betapapun besarpujinya untuk Nabi SAW, namun semua tidakmenambah kemuliaan dan kedudukan Nabi. Dipuji dan tidak pun Nabi Muhammad akan tetapmulia karena kemuliaan itu telah melekatdalam dirinya.Sementara dalam kitab al-Barzanji karya SyekhJafar Al Barzanji ibn Husin ibn Abdul Karim(1690-1766 M), sebagian syairnyamengungkapkan adanya rasa kerinduan akanhadirnya seorang pemimpin seperti NabiMuhammad SAW yang tegas, jujur danbijaksana.Karya sastra yang begitu masyhur di Tanah Airini bahkan pernah disyarah (dijabarkan) olehSyekh Nawawi al-Bantani dengan judulMadarijus Shu`ud ila Iktisa` al-Burud.Penulisan Kitab Barzanji juga tidak terlepas darisejarah panjang konflik militer dan politikantara umat Islam dan umat Kristen Baratdalam Perang Salib. Selama Perang Salibberlangsung, Sultan Salahuddin al-Ayyubi(1138-1193 M) mengobarkan semangatperjuangan dengan meneladani perjuanganNabi Muhammad dalam peringatan MaulidNabi.Segenap ulama seperti Imam Syafi’i, HasanBasri dan Ibnu Taimiyah sepakat bahwa pujianterhadap Nabi Muhammad SAW adalah hal yangwajar asal tak sampai mengangkat derajadkemanusiaan (Nabi Muhammad) ketingkatketuhanan (deity). Syair Burdah dan Barzanjisecara tidak langsung memiliki kekuatan yangakan membawa hati dan pikiran manusiaterbawa hanyut dalam pesona cinta(mahabbatur Rasul).Budaya di IndonesiaPasca kemerdekaan, perkembangan musikhadrah di Indonesia tak terlepas dari perananIkatan Seni Hadrah Indonesia (Ishari). Ishariadalah salah satu badan otonom yang berada dibawah organisasi Nahdlatul Ulama (NU),disahkan pada tahun 1959. Pengorganisasiandan nama ISHARI diusulkan oleh salah seorangpendiri NU yakni KH Wahab Chasbullah.Menurut Gus Hasib, putra KH Wahab Hasbullah,semasa hidup, Kiai Wahab sangat senanghadrah. Bahkan kalau sedang diam tangannyasuka memukul-mukul sebagai isyarat memukulterbang (hadroh: red) sambil melagukan bacaansholawat. Karena ia juga senang berorganisasiakhirnya kelompok hadrah dibuatkan wadahperkumpulan dibawah organisasi NU dengannama ISHARI atau Ikatan Seni Hadroh RepublikIndonesia.Terbentuknya ISHARI di NU menjadi salah satuorganisasi yang memelopori tradisi keagamaanwarga pesantren dengan menghidupkanpembacaan sholawat kepada Nabi MuhammadSAW. Hampir seluruh pesantren di Jawa Timurmemiliki kegiatan ekstra setiap malam jum’atmenggelar kegiatan shalawatan. Sebut misalnyaPondok Pesantren Langitan Tuban, Jawa Timur.Selain mendalami ilmu agama, di pesantrenyang diasuh KH Abdullah Faqih ini juga terdapatkegiatan seni hadrah untuk para santri.Hadrah menjadi media apresiasi seni bagi parasantri untuk menyalurkan bakat dan minatsantrinya. Walhasil, beberapa group punterbentuk antara lain Annabawiyyah, Arraudhahdan Al-Muqtasida. Kemahiran para santri dalambidang seni suara (qiraat) dan seni musik(hadrah) berpadu sehingga tiga grup tersebutdikenal khalayak umum di wilayah Jawa Timurdan sekitarnya, hingga sekarang.Di era 80-an, musik hadrah yang dikenaldengan nama rebana qasidah menjadi salahsatu musik favorit pada saat itu. Group musikyang menyemarakkan acara-acara tabligh akbaratau perayaan hari-hari besar Islam adalahNasida Ria, Semarang. Kepiawaian para personilyang terdiri dari kaum perempuan ini mampumembumikan nama Nasida Ria ke seluruhnusantara sebagai salah satu musik Islamimodern. Lirik dan warna musik yang ditawarkanNasida Ria mendapatkan sambutan luas darimasyarakat Muslim Indonesia. Bahkan, salahsatu lagunya yang berjudul ”Perdamaian”dipopulerkan kembali oleh Gigi.Pada tahun 1990-an, muncul kelompok-kelompok kasidah rebana beraliran pop yangdipopularkan oleh Hadad Alawi dan Sulis.Haddad Alwi tidak hanya membawakan lagu-lagu berlirik Arab namun jugamenerjemahkannya kedalam bahasa Indonesia.Salah satu syair fenomenal yang dibawakanHadad Alwi adalah do’a I’tiraf (pengakuan),gubahan penyair Irak terkenal, al-Hasan ibnHani al-Hakami atau Abu Nawas (136 – 196 H).Dalam syair I’tiraf (pengakuan) Abu Nawassangat menyadari bahwa dirinya bukanlahorang ideal untuk masuk surga. Namun ia puntak akan sanggup menahan siksa api neraka.Satu kesadaran bahwa dia benar-benar orangyang banyak dosa. Dosa yang telah ia perbuatbagaikan pasir di pantai. Oleh karena itu iakembali kepada Allah momohon ampunankarena tak ada yang sanggup memberiampunan kecuali Rahmat-Nya.


Sholawat Hadroh bersama Habib Umar bin Ahmad Bafaqih




live video hadroh babussalam ngodo lendo